"A Man can't make a mistake can't make anything"

Friday, 27 March 2015

HYPERTROPIC SCAR BY HERRY SETYA YUDHA UTAMA

CHAPTER 1
INTRODUCTION
Scar formation after injury is a normal process. It is the body's natural way of healing, by creating a connective tissue fibers such as collagen and deposits on the skin to close the wound. However in some cases the wound tends to swell, become swollen and sometimes red. These scars are known as hypertrophic scars. Scar hypertrophy is due to several reasons such as burns, scrapes, injections and tattoos. Another reason for the occurrence of hypertrophic scarring can be simple things like that can lead to the formation of acne scars, insect bites and accidents. Hypertrophic scarring can occur in individuals of all ages. However, in some cases, individuals tend to get hypertrophic scarring because they are genetically prone to it. Individuals with lighter skin is more susceptible to injury because the scars are more visible and prominent.
Scar hypertrophy is characterized by erythematous, pruritic, raised fibrous lesions that typically do not grow beyond the boundaries of the initial injury and may undergo partial spontaneous resolution. Scar hypertrophy often occurs after thermal injury and other injuries involving the deep dermis.
Hypertrophic scar looks like a keloid. Hypertrophic scars are more common. They do not get as large as keloids, and may fade with time. They occur in all racial groups. Keloids considered a benign tumor, but they are mainly cosmetic nuisance and never become malignant. Operates in keloid scarring usually stimulate more to form, so that people with keloids may have been told that nothing can be done to get rid of them.






case perineal tumor by herry setya yudha utama

I.      IDENTITY

Name                                 : Mrs. YI
Age                                    : 23 years
Gender                              : female
Occupation                       : Merchant
Address                             : Battembat
Sign Rs date                      : March 2, 2015

II.    HISTORY (ALLOANAMNESIS)

Main complaint          : Lumps in the groin
Additional complaints: -

History Disease Now:
Ny.YI 23 years, the patient complained of a lump in the groin there since 10 years ago, the lump is felt arise and getting bigger. Bumps also felt pain when sitting too long and quite disturbing activity. Complaints urination and defecation denied.

Formerly Disease history:
The patient had never performed the operation. The patient denied any history
high blood pressure and diabetes. Previous patient also never had the same complaint.

Family disease history:
Patients admitted in the family no one has ever experienced the same thing as a patient.

III.  PHYSICAL EXAMINATION

OLGA SyAhPUTRA MENINGGAL DUNIA DI RUMAH SAKIT DI SINGAPURA KARENA MENINGITIS

Innalillahi wa inalillahi rojiun. Komedian Olga Syahputra meninggal dunia pada sore ini, Jumat (27/3/2015). Sang manajer, Mak Vera memastikan kabar Olga tutup usia.

"Innalillahi wa inalillahi rojiun telah berpulang kesayangan mak olga syahputra di jam 5.17 sore di hari jumat. minta doa buat kesayangan mak," tulis Mak Vera lewat pesan berantai via BlackBerry Messenger.

Kabar ini ramai sejak sore hari tadi. Olga meninggal di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura dalam usia 32 tahun.

Olga diketahui hampir setahun menjalani perawatan di rumah sakit tersebut. Komedian itu selama ini diketahui menderita penyakit meningitis DAN ada beberapa benjolan di lehernya.. ya sudah lah tak perlu dibahas penyakitnya , yang penting kita doakan biar almarhum diterima disisiNya.


salam,  herry setya yudha utama

Wednesday, 25 February 2015

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN ULKUS DIABETIKUM


                                                           
DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN
ULKUS DIABETIKUM

EPIDEMIOLOGI

Prevalensi ulkus pada penduduk berkisar antara 2 - 10 %, sebenarnya hanya sebagian kecil persoalan kaki kemudian berlanjut sampai memerlukan amputasi tungkai bawah. Sebagian besar dapat diselamakan dengan pengelolaan yang cermat. Sedangkan di Indonesia, prevalensi ulkus diabetikum pada populasi jarang dilaporkan. Di Jakarta, pada survey populasi pada tahun 1983 didapatkan angka prevalensi tukak/bekas tukak sebesar 2,4 %. Di Poliklinik Endokrin RS Dr Kariadi Semarang dari data yang dikumpulkan mulai bulan Januari 2001 sampai Juni 2002 didapatkan 4 % pasien DM yang dirujuk ke poliklinik endokrin RS ini, mengalami komplikasi makroangiopati berupa ulkus diabetikum.
Diabetes mellitus adalah sebagai penyebab utama amputasi ekstremitas bawah non traumatik di Amerika Serikat. Amputasi kaki karena diabetes merupakan 50 % total amputasi di Amerika Serikat. Sedangkan data di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta angka amputasi masih sangat tinggi, yaitu sebesar 23 %.Nasib pasien yang sudah mengalami amputasi pun tidaklah menggembirakan. Data dari seluruh rumah sakit di Negara bagian California menunjukkan 13 % di antara mereka yang sudah diamputasi akan memerlukan tindakan amputasi lagi dalam jangka 1 tahun. Didapatkan pula bahwa 30- 50 % pasien yang telah diamputasi akan memerlukan tindakan amputasi kaki sebelahnya dalam jangka 1-3 tahun. Sedangkan dari data RSUPN Cipto Mangunkusumo nasib penderita ulkus diabetikum yang diamputasi juga tidak menggembirakan. Dalam 1 tahun pasca amputasi 14,8 % meninggal dan meningkat 37 % pada pengamatan 3 tahun.





Friday, 13 February 2015

KUASA HUKUM BENTAK SAKSI AHLI

 menurut , KOMPAS.com , jakarta—  ada Salah seorang kuasa hukum Komisaris Jenderal POLISI Budi Gunawan, Frederich Yunadi, sempat membentak saksi ahli, Zainal Arifin Mochtar, saat sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (19/2/2015) siang.
Zainal, dosen Universitas Gadjah Mada, dihadirkan sebagai ahli hukum tata negara oleh kuasa hukum KPK.
Ceritanya, Frederich hendak bertanya kepada Zainal perihal perbedaan kalimat kolektif dan bersama-sama dalam konteks Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2003 tentang KPK.
Zainal lalu menjawab, "Memang, dalam Pasal 21 UU, yang dimaksud kolektif adalah bersama-sama, sementara kalau kolegial itu adalah musyawarah."
Zainal lantas memberikan contoh dalam UU Komisi Yudisial. Namun, saat Zainal belum meneruskan penjelasannya, Frederich langsung membentaknya.
"Saya tidak minta ahli mencontohkan UU KY. Saya mengontekskan pertanyaan saya ini dengan UU KPK, kenapa harus menjelaskan sesuatu hal yang berbeda?" ujar Frederich dengan nada tinggi.
Seketika, suasana ruang sidang berubah jadi riuh. Pengunjung sidang tertawa melihat aksi Frederich. Sejumlah kuasa hukum KPK pun senyum-senyum melihat situasi itu. Salah satu kuasa hukum KPK, Rasamala Aritonang, sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Hakim praperadilan Sarpin Rizaldi langsung mengambil alih jalannya sidang. Dia mengingatkan kepada Frederich untuk mendengar jawaban saksi ahli terdahulu.
Zainal sempat mengajukan protes kepada hakim terhadap ulah Frederich. "Saya tidak suka keterangan saya di sidang ini dipotong-potong seperti tadi, ya," ujar Zainal.
Sidang tersebut dilanjutkan dengan mendengar keterangan dari Zainal. Agenda dalam sidang praperadilan lanjutan pada Jumat ini adalah pembuktian tim kuasa hukum KPK terhadap materi pembelaan praperadilan pihak Budi Gunawan.
Sidang pembuktian KPK ini telah memasuki sidang kedua, setelah sebelumnya hakim memberi kesempatan selama dua hari untuk sidang pembuktian dalil praperadilan pihak Budi. Putusan sidang praperadilan Budi Gunawan versus KPK dijadwalkan pada Senin (16/2/2015).