"A Man can't make a mistake can't make anything"

Friday, 6 April 2012

SERI SEJARAH : PANGERAN KORNEL , PEMIMPIN SUMEDANG PEMBELA RAKYAT DAN BERANI MENENTANG PENJAJAH DEMI RAKYATNYA.




 Sekitar  300 tahun yang lalu ,tepatnya 12 maret 1811 , gubernur jenderal Hindia Belanda  Herman Wilem Daendels  yang sedang memerintahkan membuat jalan dari Anyer (ujung barat pulau jawa  hingga ujung timur pulau Jawa  yaitu Panarukan (kurang lebih 1000 kilometer) lebih jauh baca di http://herryyudha.com . Saat itu terjadi perlambatan pembuatan jalan di sebuah perbukitan batu (cadas) 9 KM sebelum Kota Sumedang . pengerjaan jalan terhambat karena bukit batu tersebut yang sulit ditembus dan curam. Banyak sudah rakyat Sumedang yang disuruh kerja paksa (pekerja RODI) bagaikan budak belian di tempat tersebut dan mereka banyak yang meninggal dunia karena penyakit dan kelaparan. Melihat keadaan tersebut seorang Pangeran S umedang  Kusumah Dinata tidak tega rakyatnya sengsara. Maka pada tanggal tersebut  sang pangeran, mendatangi Daendels. Daendels menyambut sang pangeran dan menyapa Apa kabar pangeran ? sambil menyodorkan tangan kanannya , tetapi pangeran sumedang tidak segera menyambutnya malah sang pangeran menyodorkan tangan kirinya . Daendels sangat terkejut baru kali ini ada seorang pribumi yang berani menghina dan mempermalukan dia.......tetapi sudah terlambat karena pangeran sumedang adalah ahli hikmah , kekuatan ilmunya diatas rata-rata. Sang pangeran langsung bisa menguasai alam bawah sadar  Daendels sehingga seorang Gubernur Jenderal langsung tekuk lutut dihadapan pangeran Sumedang, serta langsung mengsugesti/memerintah tuan Daendels serta  berkata : tuan Daendels rakyat sumedang  banyak yang mati karena ambisi tuan, membuat jalan itu bagus tetapi kalau tuan ingin berhasil tolong perhatikan pekerjanya. Tolong berikan makanan dan peralatan yang baik. Daendels tidak kuasa menantang mata sang pangeran , dia hanya bisa berucap:  iiiiya pangeran, baaik pangeran. Lalu sang pangeran melanjutkan sugestinya : Dan ingat tuan Daendels kenapa saya menyodorkan tangan kiri untuk salaman dengan tuan, karena tangan kanan saya pegang Keris bila tuan tidak mau menuruti nasehat saya maka sekarang juga keris ini akan merobek tubuh tuan. Sebaliknya bila tuan mau berubah memperlakukan pekerja dengan  baik maka saya akan memdukung
tuan membuat jalan                 .
 Babaiik  pangeran ..... hanya itu yang bisa diucapkan Daendels . seterusnya Daendels bengong dan terdiam begitupun para pengawal dan tentara  kompeni. Setelah beberapa lama  pangeran pergi  baru  Daendels tersadarkan, dan berkata : mana pangeran tadi? Pangeran itu  hebat dan berani. Kalo dia mau jadi penasehat saya akan saya berikan pangkat COLONEL . sejak saat itu sang pangeran dipanggil PANGERAN KORNEL  Sejak  peristiwa  itu Daendels memerintahkan supaya pekerja diperhatikan makanan dan peralatannya malah jumlah pekerja ditambah dari daerah lain, malah pasukan Zeni Belanda juga diturunkan sehingga jalan di cadas Pangeran bisa cepat ditembus dan diselesaikan.
 SEJAK SAAT itu daerah bukit batu serta jurang disebut CADAS PANGERAN.  Kalau anda lewat di ujung barat Cadas Pangeran maka akan melihat tugu ada dua orang yang lagi salaman yang satu pake tangan kiri (Kornel) yang satu lagi pake jubah salaman tangan kanan (Daendels).

Saya sebagai generasi penerus / keturunannya Pangeran Kornel tetap memelihara ilmu ilmu kasumedangan......yang mungkin nanti akan saya tulis di blog ini untuk melestarikan sampai generasi  yang akan datang.
 Sayang peristiwa istimewa ini luput dari para ahli sejarah. Di jawa barat  tidak terjadi perang besar ,saat pembuatan jalan Daendels karena gubernur jendral Daendels bisa dikendalikan dengan bijaksana ( di daerah lain banyak bentrokan / perang ).
Di  jawa barat penduduknya banyak  . luas jawa barat hampir sama dengan luas nedherland. Banyak orang jawa barat yang pintar ,arif serta bijaksana namun penulis perhatikan , dari pemerintahan ke pemerintahan orang jawa barat mulai terpingirkan (mungkin yang lain tidak memperhatikan) sehingga  kepemerintahan di kita sering labil dan mudah digoyang karena orang orang pinter,arif serta bijaksana yang notabene banyak di jawa barat tidak diikutsertakan secara optimal  dan proposional.
Dilain pihak juga banyak  orang jawa barat  yang sudah jadi pemimpin ,baik level lokal maupun nasional tidak ingat lagi pada rakyat kecil,  mereka sudah jadi egoistis, melupakan budaya asal  dan kemaruk , hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya.
Kalau ingat sejarah  Majapahit juga sulit  menguasai Jawa Barat sampai terjadi peristiwa rekayasa di Bubat kisah putri Pitaloka. mangkanya di jawa barat tidak pernah ada daerah/jalan Majapahit,Gajah mada ataupun Hayam wuruk.  Sejarah juga mencatat Sultan Agung bisa menggempur batavia karena di bantu orang jawa barat,,,,,,,,kalau mau maju Indonesia jangan lupakan orang jawa barat yang baik,bukan orang jawa barat yang buruk/busuk .chauvinisme ? oh no, tentu saja tidak. bukankah segala sesuatu harus dimaximalkan dioptimalkan ,secara seimbang serta proposional dan profesional.    ini anjuran ..... percayalah padaku . mudah mudahan pemerintahan mendatang kedepan bisa memahami ini kalau mau stabil.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment